02 Desember 2007

Larva migrans: cacing mini berlenggang

cacing berlenggok di bawah kulitPara pembaca terhormat, pernahkan menemui seperti gambar?
Mudah-mudahan tidak.
Namun demikian saya ingin berbagi informasi tentang penyakit ini. Siapa tahu ada diantara pembaca yang berminat untuk mengetahuinya.
Namanya sudah tertulis di gambar: Larva migrans
Ada 2 jenis, yakni cutaneous larva migrans (di kulit) dan larva migrans visceralis (di organ tubuh)

Kita hanya akan membahas jenis yang pertama: cutaneous larva migrans, lantaran jenis ini lebih sering ditemui. Nama lain adalah creeping eruption.

Namanya koq sulit sih. Sabar, nanti bisa dipermudah supaya mudah diingat.
Tenang, tenang …

Ketika menemui penyakit ini di daerah pinggiran kota, bayangkan betapa sulitnya menjelaskannya.
Begitu juga saya, saat mengatakan penyebabnya adalah cacing mungil masuk dan berkelana di bawah kulit, kira-kira apa reaksi yang mendengarnya, hayo.
Biasanya cacing kan keluar lewat anus, atau cacing kremi ada di pinggiran silit (dubur). Lha koq tak ada hujan tiada angin ada cacing di bawah kulit.
Kaget, gak percaya, apa lagi ya …
Kali dokternya dikira ngelindur.
Syukurlah, sekarang sudah enak, serba elektronik, serba komputer, sehingga di pinggiran seperti sayapun bisa memanfaatkannya.

Penyebab:
Penyebabnya adalah larva dari cacing tambang Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum, yang berasal dari binatang, terutama anjing dan kucing. Penyebab lain diantaranya: gnatostoma, Uncinaria stenocephala, Butnostomum phlebotomum (dari sapi), Strongiloides sterconalis, dll. Larva cacing tersebut hidup di tanah, lumpur, pasir dan tempat-tempat kotor. Cacing ini daur hidupnya terutama melalui anjing, kucing dan dilaporkan bisa melalui herbivora.
Cacingnya tidak kelihatan saking kecilnya (ukurannya mikro), kecuali menggunakan mikroskop.

Sedangkan viceral larva migrans atau Larva migrans viseralis (menyerang bola mata, dan beberapa organ dalam lainnya) disebabkan oleh: larva cacing Toxocara (tidak dibahas dalam tulisan ini)

Penularan:

  • Kontak dengan larva cacing di tempat-tempat kotor (pasir, tanah, lumpur dll)
  • Tertelan telur cacing (melalui tangan secara tidak sengaja)

Siapa yang bisa terjangkit “goyangan cacing mini” Larva migrans ?
Pada dasarnya siapapun bisa terjangkit bila tertular, melalui kontak maupun tertelan. Tetapi yang paling sering dan memiliki resiko paling besar adalah: anak usia 1-7 tahun.
Mengapa ?
Karena anak pada usia tersebut senang-senangnya main di pasir dan ndeprok (duduk) di tanah atau rerumputan.

Di tempat kami, kasusnya rata-rata 1-2 kasus per bulan (di tempat praktek). Usia penderita beragam, mulai anak hingga dewasa.
Pada anak umumnya memiliki riwayat senang main atau ndeprok di tanah, pasir, rerumputan.
Sedangkan pada usia remaja, biasanya sebelumnya habis latihan silat, guling-guling di rumput (mungkin latihan jurus naga), atau habis bal-balan di lapangan kotor.
Dan pada usia dewasa, pada umumnya terjangkit setelah kerja bakti mbersihin parit, bersih-bersih halaman, pekerja pengangkut pasir dll.

Saya memakai isitilah cacing kulit supaya mudah diingat. Istilah ini saya akui salah, tetapi jangan khawatir, nama Larva migrans tetap diperkenalkan, lalu saya mudahkan dengan nama “cacing kulit“.
Ternyata warga memang lebih mudah mengingat. Terbukti penderita yang terjangkit larva migrans mengatakan bahwa diberi tahu tetangganya yang pernah berobat dan diberi tahu bahwa namanya “cacing kulit”, lalu disuruh berobat ke praktek karena akan ditunjukkan gambarnya di komputer kecil (maksudnya PDA). *halah PDA lagi*
Nah, enak tho ….

Perjalanan penyakit ( larva migrans cutaneous).
Pada manusia, masa tunasnya mencapai beberapa hari dan penyakit ini dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan bila tidak diobati.

Awalnya hanya berupa bintik merah gatal (mbentol), lalu melonjong, memanjang, berkelak-kelok seperti spiral.
Gatal pada malam hari, lantaran saat itu si larva cacing jalan-jalan berlenggak-lenggok menyusuri kulit rata-rata 2mm-3mm per hari.
Jadi jika alur lenggak-lenggoknya sekitar 15 cm, berarti kira-kira sudah berlangsung sekitar 5 hari. Adakalanya orang tua ngotot baru 2 hari, maklum saja mungkin tahunya memang baru 2 hari karena si ibu bekerja dan anaknya dititipkan. (di daerah kami banyak wanita bekerja di pabrik plywood, namun sekarang sudah kerkurang seiring bangkrutnya beberapa pabrik plywood)

” Pak, niki anak kulo kinging cacing kulit. Tanggi-tanggi nyanjangi ken berobat ngriki “. (pak, ini anak saya kena cacing kulit. Tetangga ngasih tahu dan nyuruh berobat ke sini)
Ehm, ya sudah tinggal nyocokkan, wong ibu si pasien udah ngerti.Cacing tamasya di perut

Berdasarkan letaknya, penyakit ini paling banyak mengenai kaki (39%), pantat (18%) dan perut (16%).
Jining Wang, MD, February 28, 2006
.

Pengobatan.
Sebelum tahun 1960-an, pengobatan cutaneous larva migrans menggunakan Chlorethyl, obat anastesi semprot dingin (biasa juga dipakai di persepakbolaan).

Prior to the 1960s, topical modalities such as ethyl chloride spray, liquid nitrogen, phenol, carbon dioxide snow, piperazine citrate, electrocautery, and radiation therapy were used unsuccessfully because the larvae might be missed and/or not be killed. Lydia A Juzych, MD, April 10, 2006)

Ternyata obat semprot tersebut hanya menghambat, tidak membunuh cacing.
Perlu diketahui, larva cacing terhambat pada suhu di bawah 10 derajat cecius, tetapi tidak mati, dan baru bisa mati pada suhu minus 15 derajat celcius. Itulah mengapa disemprot Chlorethyl tak kunjung sembuh.
Yah, pindah berobat dong.

Obat yang dianjurkan antara lain:

Obat cacing: Obat pilihan adalah: thiabendazole, ivermectin dan albendazole, sedangkan obat lainnya Mebendazole.

Thiabendazole (apa sudah ada di Indonesia ?)
Dosis: 25-50 mg/kg berat badan/hari, diberikan 2 kali sehari selama 2-5 hari. Tidak diperkenankan melebihi 3 gram perhari.
Dapat juga diberikan secara topikal (obat luar) 10-15% dalam larutan.

Albendazole. ( pilih yang ini )
Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 400 mg perhari, dosis tunggal, selama 3 hari atau 200 mg dua kali sehari selama 5 hari.
Dosis anak kurang dari 2 tahun: 200 mg perhari selama 3 hari.
Atau 10-15 mg per kg berat badan, 4 kali perhari selama 3-5 hari.Jining Wang, MD, February 28, 2006

Mebendazole
Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 100-200 mg dua kali sehari, selama 4 hari .
Anak kurang dari 2 tahun: tidak dianjurkan

Anti alergi, untuk mengurangi alergi lokal, misalnya menggunakan hidrokortison cream atau sejenisnya.

Antibiotika, diberikan bila ada infeksi sekunder (bernanah)

Selama ini, untuk pasien di praktek, hasil terbaik adalah Albendazole.
Ada review lain dari para sejawat ?

Pencegahan.
Sedapat mungkin, hindari anak-anak ndeprok (duduk) di pasir, tanah, rerumputan.
Sulit lho, karena area tersebut adalah tempat favorit anak untuk bermain dengan teman-temannya.
Menurut saya dilematis, di satu sisi anak perlu dilatih mengenal sekitarnya, berkreasi main pasir bikin macam-macam bentuk, di sisi lain beresiko terjangkit cutaneous larva migrans. Begitu juga berlarian di rerumputan, bagi anak mengasyikkan. *saya juga*
Bila si anak sulit menghindari tempat tersebut, langkah terbaik adalah mencuci tangan-kaki dengan sabun atau sekalian dimandiin.

Bagaimana bila mendapati anggota keluarga atau tetangga terjangkit penyakit tersebut?
Dengan berat hati, mau tidak mau dibawa ke dokter.
Pertama dicocokkan benar tidaknya, kedua menyangkut pilihan dan dosis obat.
Kecuali bila difoto lalu upload, bisa didiskusikan secara online. *informatika kedokteran*
(saran dari teman saya, sejawat Dani Iswara)

Menurut saya *tapi jangan omong-omong ya* sebenarnya jika saran Mas Dani itu bisa terwujud, penyakit beginian dapat diobati sendiri, tentunya setelah diskusi online. Maksudnya biar mudah.

Semoga bermanfaat.

Artikel asli di sini

Update: 12 Maret 2008 * thanks mas Fajar :) *

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Coba komen :)

qimindra mengatakan...

Wah, Cakmoki emang yahud deh...
Aq lagi browsing tuk wawancara tt CLM, eh masuknya ke tempatnya Cak juga.

Tapi,...boleh koreksi n nambah dikit ya...

penyebab CLM bukan toxocara , karena setahu saya toxocara itu yg nyebabkan visceral LM.

untuk terapi munkin bisa dicoba topikal albendazole 4%, sesuai yang kubaca di kepustakaan Ilmu kulit dan kelamin Unair.

Makasih ya Cak.

cakmoki mengatakan...

@ qimindra:
blog ini sebagai back-up khusus kesehatan (penyakit) untuk jaga-jaga kalo ada apa-apa.
Iya, bener ...kebalik tuh, udah saya up date...makasih koreksinya ya :)
untuk topikal ga saya tulis, selain albendazol 4%, bisa pula tiabendazol 10% atau tiabendazol 2% DMSO yg terbukti efektif.
Trims juga tambahannya..